Alhamduluillah,
akhirnya si Neng udah sembuh total di hari pagelaran drama musikal Timun Mas,
pasalnya si Nenglah yang kepengen banget nonton nih pagelaran. Jadi di hari
Minggu tanggal 23 Juni 2013, si Neng nemu iklan tentang pagelaran drama musikal
Timun Mas di koran Kom*as, kontanlah doi pengen nonton. Karena harga tiket yang
lumayan mahal, akhirnya si Neng nyuruh gue buat nyari kuis, barangkali ada,
waktu itu juga lagi rame-ramenya kuis Ariah. Ternyata ada! Hoho, langsung aje
gue ikutan. Alhamdulillahnya gue menang dan dapet 2 tiket, cihuyyy!! Kesenengan
gitu gue karena bisa memenuhi keinginan si Neng tanpa harus mengeluarkan duit
buat beli tiket.
Sebenernya
gue dapet tiket untuk pagelaran di Sabtu siang, berhubung di hari Sabtu itu gue
mau nonton Ariah akhirnya gue minta tuker jadwal jadi Minggu siang. Untung gue
ganti, kalo gak si Neng gak akan bisa nontonlah, masih belum pulih soale. Tiket
pagelaran gue ambil langsung di hari H, ternyata eh ternyata gue dapet tiket
kelas 2 yang mana harga satuannya itu 300 ribu! Ajegileeee, 600 ribu berarti
total yang gue dapet!! Alhamdulillah. Seandainya bisa diuangkan… *dilempar pake
timun mas*
Pagelaran
dimulai sekitar jam setengah 3 sore. Pas masuk ke dalem Istora, langsung
kebayang Grand Prix Marching Band (GPMB), tapi langsung buyar karena
lapangannya dipenuhi kursi dan dipojok tempat piala biasanya ditaruh diubah
menjadi panggung pertunjukan. Panggungnya sendiri gak semegah Ariah *yaiyalah
ya*, malah bisa dibilang kecil. Di kanan kiri panggung terdapat semacam balkon
dan di depannya ada space buat pemain
musik. Kalo diliat dari ukurannya sih sepertinya pemain musiknya hanya sedikit.
Oiya untuk kursi yang gue tempatin ada di sisi kanan panggung, hmmm agak kurang
oke sih viewnya karena miring gitu
jadinya, tak apalah, namanya juga gratisan.
![]() |
Panggung yang gak terlalu gede |
Sebenernya
untuk cerita Timun Mas sendiri gue gak inget detilnya, tapi kalo si Neng mah masih
sangat ingat. Di pagelaran kali ini, cerita diubah dari cerita aslinya. Timun
Mas merupakan anak dari seorang raja yang diculik oleh Wolfie sang siluman srigala (Indra Birowo) dan dibuang ke sungai.
Ada satu hal yang cukup menggelitik dari pagelaran ini, sinopsis yang tertera
dalam buku acara gak sesuai dengan cerita yang disajikan di panggung. Di
sinopsis Timun mas dibuang ke sungai dan dimasukan ke dalam timun berwarna
emas, tapi tidak demikian dengan yang ada di panggung. Timun Mas dibuang di
sungai hanya dibungkus kain dan di atas pelepah daun, dinamakan Timun Mas
karena ketika ditemukan oleh 4 orang Ibu (Sahita Group) bentuknya menyerupai
Timun dan dibalut dengan kain berwarna emas. Hmmmm bukan masalah besar sih,
hehe. Iseng banget ye gue menyorot masalah beginian?
Salah
satu daya tarik dari pagelaran ini adalah beberapa tokoh diperankan oleh
selebritis yang cukup terkenal. Misalnya Timun Mas yang diperankan oleh Angel
Pieters (Idola Cilik), terus juga ada Ria Irawan, Indra Birowo, Nola Be 3,
Sahita Group dan Raline Shah. Sisanya sih diperankan oleh artis-artis
pagelaran. Ada beberapa wajah yang pernah gue temukan di pagelaran lainnya,
sebut saja Gabriel Harvianto sang burung hantu yang pernah main di Musikal
Laskar Pelangi sebagai Pak Bakrie dan di drama musikal Gita Cinta sebagai
Galih, peran utama loh ini! Btw, doi suaranya emang keren banget sih. Selain
sebagai pemain doi juga bertindak sebagai asisten pengarah vokal, ngebantuin
Mbak Ubiet. Random dikit ya, Mbak Ubiet ini pernah ngajar vokal AFI, terus
malam sebelumnya gue ketemu doi di pagelaran Ariah dan di hari pagelaran Timun Ma
situ juga gue ketemu doi *gak penting*.
Nih foto beberapa pemain yang gue ambil dari sini:
Nih foto beberapa pemain yang gue ambil dari sini:
![]() |
Budhe Tami |
![]() |
Wolfie |
![]() |
Timun Mas |
![]() |
Miss Mirrorski yang suaranya dahsyat |
![]() |
Burung Hantu sang artis pagelaran |
![]() |
Boneka Sawah yang tanpa disadari lebih banyak muncul dibandingkan pemeran utamanya. |
Untuk
pemeran menurut gue yang punya vokal paling oke selain burung hantu adalah Miss
Mirrorski yang diperankan oleh Maera, terus ada juga Mawar kecil yang
diperankan oleh Naura. Kalo pemeran yang lain juga bagus cuma gak semenonjol
mereka. Untuk akting, *ga ngerti soal akting padahal tapi pengen komen juga*
Budhe Tami (Ria Irawan) total sangat, maklum sih, secara doi udah lama bergelut
di dunia akting. Buat gue yang paling gak banget adalah *maaf ya buat para
penggemarnya* Mawar besar yang diperankan oleh Raline Shah. Entah kenapa gue
ngeliat kalo aktingnya itu terlalu dibuat-buat, kurang okelah pokoknya. Dari
sisi vokal, doi juga termasuk yang lemah.
Busana dalam pagelaran ini beberapa diantaranya merupakan karya Anne Avantie,
kinclong-kinclong kebayanya. Kebayanya Budhe Tami, terus juga Ratu dan Timun
Mas diakhir acara sepertinya karya beliau. Oiya, pakaian yang dikenakan Mawar besar
menurut gue agak kurang pantas untuk pagelaran yang ditujukan untuk anak-anak.
Jauh lebih bagus pakean yang doi kenakan ketika closing acara.
Gue
sangat mengapresiasi pagelaran ini. Cerita rakyat bisa dikemas dengan
sedemikian canggihnya. Background panggung berubah dengan sangat cepat karena
menggunakan teknologi digital, tidak terlalu banyak properti yang digunakan
namun suasana panggung selalu berubah dengan cepat dan mendukung cerita yang
sedang ditampilkan. Latar panggung sangat mendukung menurut gue, tapi ada
beberapa animasi yang nanggung di beberapa tempat, misalnya animasi ketika
timun mas dibuang ke sungai. Sepertinya bisa lebih dari itu, karena agak
nanggung.
Pagelaran Timun Mas ini dibawakan secara atraktif, beberapa kali pemain berada di tengah-tengah penonton. Penonton seolah dibawa ke dalam cerita. Wolfie (Indra Birowo) misalnya, tiba-tiba ada di tengah penonton untuk mencari…. (lupa gue nyari apa), hehe. Pokoknya si Wolfie ini sempet bertanya kepada penonton, dan karena penampilannya yang menyeramkan banyak juga anak-anak yang nangis karena ketakutan.
Walopun
pagelaran drama musikal Timun Mas ini gak sespektakuler Ariah ataupun Musikal
Laskar Pelangi, menurut gue udah bagus banget. Sepertinya anak-anak jaman
sekarang semakin jauh dengan cerita-cerita rakyat asli Indonesia, jadi harus
ada cara lain untuk membuat mereka tertarik untuk tahu. Semoga aja banyak
pagelaran semacam ini di tahun mendatang, semoga juga harga tiketnya bisa jauh
lebih murah jadi lebih banyak lagi kalangan yang bisa menyaksikan.