Showing posts with label pangeran dan keluarga. Show all posts

Cing Titin [LAGI]


.


Masih inget dengan salah seorang Ncing gue yang sempet gue tulis di sini? Yup, betul sekali!! Cing Titin, Ncing gue yang kaga ada matinye ini tadi malem (300113) sms gue yang isinya:

“An, ada PR Rizky (anak ke-2 Cing Titin) 5/7 dkrg 9/12 d x 4/45 d tmbh 7/12 d jlnin yah An”

Gak lama kemudian dateng lagi sms yang berisi:

“Ada lg 8/11 d x 44/7 d bg 20/21 sm An d jlnin jg tq”

Ngerti kan isi smsnya? Intinya Cing Titin minta gue buat ngerjain PR anaknya yang masih SD, minta diajarin sih sebenernya. Gue sih ga ada masalah buat ngajarin anaknya Cing Titin, tapi masalahnya adalah gue dan Cing Titin terpisah ruang dan waktu. Doi di Tangerang, gue di Depok!! Terus juga Cing Titin minta “d jlnin” atau dalam bahasa normalnya minta dijabarin caranya.

Coba ada yang tau cara ngajarin perhitungan bilangan pecahan yang cukup kompleks (5/7 – 9/12 x 4/45 + 7/12) lewat sms secara efektif? Hyaaa gue sih gak mampu sama sekali, bahkan lewat telepon sekalipun gue rasa keahlian gue gak cukup buat ngajarin perhitungan bilangan pecahan yang cukup kompleks ini, ehehehe.

Ini bukan kejadian yg pertama kali. Pernah juga Cing Titin minta tolong dijabarin cara 2/5 diubah dalam bentuk persen. Menurut gue ini masih sederhana buat gue jabarkan lewat sms, etaaappiiiiiii itu aja mesti berkali-kali gue jawab sms pertanyaan dari soal ini. Nah itu aja yang simple berkali-kali nanya, apalagi soal pecahan kompleks tadi?

Maaf ya Cing, ayeh kaga bisa bantu kali ini. Kalo mau, ntar ajeh kalo ayeh pulang ayeh ajarin anak Ncing.

Cing Titin oh Cing Titin......


.

Pagi ini dapet sms dari salah seorang Ncing yang dikenal dengan panggilan Cing Titin (adeknya Enyak gue), isinya:

"Andrian bisa gak dilht diinternet hsl Nem adit" 10.06.2012, Pkl 07:03 WIB

Adit ini anaknya Cing Titin yang baru aja kelar UN SD, nah Ncing gue ini minta liatin pengumumannya di internet. Gue pun bales tuh SMS dengan nanya apa situsnya, langsung doi jawab:

"situs apaan?" 10.06.2012, Pkl 07:06 WIB

Dari sini gue takut Ncing gue kebingungan. Doi minta liatin nilai Nem anaknya di internet, gue malah nanya balik tentang situs Gunung Padang yang udah berusia 109 abad yang terletak di kampung halaman suaminya, Cianjur, Jawa Barat. Gue pun membalas:

"alamat websitenya..." 10.06.2012, Pkl 07:08 WIB

Kayaknya Ncing gue makin bingung. Pasti dalem pikirannya doi berujar "Ini si Andrian lagi ngigo (mengigau-RED) apa ya? gue minta liatin hasil UN anak gue di internet dia malah nanyain situs sejarah, eh malah lanjut nanya alamat situs jaring-jaring". Daripada doi semakin bingung, akhirnya ditelponlah gue yang lagi 'nabung pagi', *pilihan yang tepat*. Berikut petikan pembicaraannya:

Cing Titin (CT): Halo An.

Gue (G): Iya Cing?

CT: Liatin Nem si Adit di internet An!

G: Iya situsnya apaan? alamat websitenya?

CT: Itu apaan sih maksudnya?

G: (Hooo rupanya Ncing gue kaga ngarti toh.. He!!? beneran kaga ngarti ya? sumpah beneran kaga ngarti?!! *entahlah) Iya Cing alamat websitenya, kaya misalnya kemaren Andrian ngeliatin hasil ujiannya Maulana di situsnya Diknas.

CT: Oiya kali di Diknas, kalo ga di Dikbud.

G: Emang pengumumannya kapan Cing?

CT: Udah lama An, udah hampir sebulan.

G: Hoo udah lama toh? barengan Maulana ya berarti pengumumannya?

CT: Bukan pengumumannya, itu ujiannya yang udah lama.

G: (Ini Ncing gue mabok genjer apa ya? gue nanya kangkung dijawab genjer) Yeee Cing Titin gimana sih? Jadi pengumumannya kapan emang?

CT: Pengumumannya Sabtu An.

G: Hoo kemaren pengumumannya?

CT: Bukan.... Bukan kemaren pengumumannya, tapi Sabtu depan tanggal 16 Juni

Berasa dihujam paku sekilo gue. Lah pengumuman masih 6 hari lagi, gue udah disuruh ngeliat hasilnya. Hmmm kebanyakan nonton Doraemon nih kayaknya Ncing gue, sampe-sampe dia ngira internet itu mesin waktu.

G: Hadoooooh Cing Titin, pengumumannya masih tangeh melengeh masa Andrian disuruh ngeliat sekarang?

CT: Hooo emang gak bisa ya?

Pengen rasanya gue tereak "Menurut Lo? Internet bukan mesin waktu Ciiiiiiiiiiiinnnnggggggg!!" tapi kayaknya gak mungkin, bisa-bisa pas ke rumahnya gue langsung digabek pake alu (tumbukan buat bikin uli).

G: (Narik napas panjang sampe dada gue luber udara) Gak bisa Cing, kalo pengumumannya baru Sabtu depan ya nanti dibukanya.

CT: (dengan nada tanpa dosa) Oh gitu ya? Soalnya pengen tau Nemnya biar tau sekolah mana yang bisa dimasukin.

G: Emang Adit mau sekolah di mana?

CT: Ga tau nih, kayaknya sih pengen di SMP 21 (Tangerang), tapi katanya SMP 21 taun ini nerima Nemnya tinggi.

G: Emang nerimanya berapa Cing?

CT: 26.

G: Dari berapa pelajaran?

CT: 3 pelajaran.

G: Hah!!? Masa sih? Masa gede banget Cing? (Gak percaya kalo segitu gedenya, soalnya sepengetahuan gue nih sekolah bukan yang termasuk terfavorit di Tangerang, kok bisa gede gitu standar Nemnya? Biasanya sekolah ini nerima Nem antara 22-23)

CT: Iya An, malah katanya taun ini SMP 1 (Tangerang) nerima Nemnya 30!!

Gue yang lagi 'nabung pagi' pun tiba-tiba langsung lancar menabung. Mungkin perut gue juga ikutan kaget mendengar berita itu. Gile banget ada sekolah yang cuma nerima anak-anak dengan Nem SEMPURNA!! Sepinter itu ya anak-anak SD jaman sekarang??!! *Wallahualambishawab.

Noh yang dilingkarin merah adalah penampakan Ncing gue yang sangat terkenal dikalangan temen SMA gue, Ncing yang paling deket juga sama gue.. Hehehe maap yee Cing, Andrian muat di sini *yakin kalo doi ga bakal nemuin nih Blog*


Maulana Ardi: Mendobrak Keterbatasan!!


.


Sebelumnya gue pernah ngepost tentang Yudha, adek gue yang kedua di sini, terus juga tentang babeh dan engkong gue di sana. Nah sekarang gue pengen berbicara tentang adek gue yang pertama, Maulana Ardi. Kenapa tiba-tiba gue pengen nulis tentang Maulana? Jadi beberapa waktu lalu gue lagi nyariin link beasiswa buat Maulana yang sekarang lagi duduk di kelas 3 SMA. Salah satu beasiswa mensyaratkan setiap peserta untuk menulis kisah hidupnya, dan tulisannya itulah yang membuat gue pengen bercerita tentang Maulana. Berikut tulisan Maulana yang udah diedit sama si Neng:

Namaku Maulana Ardi. Aku lahir di Tangerang, tanggal 3 Januari 1994. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Aku dilahirkan dengan sepasang kaki yang tidak dapat berfungsi dengan baik. Kedua kakiku berukuran kecil dan tidak berkembang sebagaimana tubuh yang lain. Kakiku tidak cukup kuat menopang berat tubuhku sehingga tidak dapat digunakan untuk berjalan. Aku berjalan dengan menggunakan lututku. Kekurangan yang kumiliki ini sempat membuatku kehilangan semangat dan kepercayaan diri.

Perjalanan hidupku pun penuh dengan tantangan, terutama ketika muncul keinginanku bersekolah. Aku takut mendapatkan hinaan dan ejekan dari anak-anak lain. Tak dipungkiri bahwa di awal masa aku bersekolah aku merasa minder dengan kondisi tubuhku. Tetapi keluargaku selalu menyemangatiku untuk terus bersekolah. Beruntunglah, ternyata teman-temanku tidak seperti yang aku takutkan. Mereka sangat baik dan mengerti akan kondisiku. Tidak jarang aku mendapatkan bantuan dari mereka. Tak hanya itu, kadang-kadang mereka yang mengantarku pulang ke rumah ketika jam sekolah usai

Aku bukan berasal dari keluarga yang berada. Ayahku seorang supir yang bekerja dari hari Senin-Sabtu, pagi hingga menjelang malam, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga. Ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga dan guru mengaji bagi anak-anak disekitar rumahku. Setiap hari ibuku yang bertugas mengantarku ke sekolah dan menjemputku ketika pulang. Kedua orang tuaku tidak mencapai pendidikan yang tinggi. Namun mereka tidak ingin anak-anaknya seperti mereka. Mereka berusaha agar anak-anaknya bisa meraih cita-cita dan impian walaupun harus bekerja membanting tulang. Melihat perjuangan ayah dan ibuku, aku ingin sekali membahagiakan mereka. Dengan semangat itulah, aku terus belajar dan mencoba meraih prestasi. Alhamdulillah, dengan segala usaha aku bisa bersaing dengan teman-temanku di sekolah.

Saat ini aku bersekolah di SMA Negeri 14 Tangerang. Di sekolah ini diterapkan sistem moving class. Jadi setiap pergantian pelajaran, para siswa harus pindah ke kelas lain sesuai dengan di mana kelas mata pelajaran tersebut diadakan. Dengan kekurangan fisik yang kumiliki, sistem ini membuatku merasa kesulitan, apalagi beberapa kelas terletak di lantai dua. Orang tuaku tidak punya cukup uang untuk membelikanku kursi roda atau tongkat. Untunglah di sekolah ini aku bertemu banyak sahabat. Mereka selalu menolongku ketika aku berada dalam kesulitan. Mereka sering bergantian menggendongku jika harus menaiki tangga.

Ketika aku berulang tahun yang ke-17, salah seorang sahabatku, Cinthya, memberikan hadiah kejutan. Sebuah kursi roda! Aku tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Cinthya. Kursi roda ini memudahkanku untuk pergi kemana pun, terutama dalam mengikuti sistem moving class yang diterapkan sekolah.

Suatu hari aku membaca sebuah buku tentang perjalanan hidup Helen Keller, seorang gadis yang ketika bayi terserang penyakit hingga menyebabkan ia buta, tuli, dan bisu. Namun kondisi tersebut tidak menghentikannya untuk menjadi “seseorang”. Atas prestasi yang ditorehkannya, Helen Keller berhasil mendapatkan beberapa penghargaan, seperti Honorary University Degrees Women's Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, dan The Lions Humanitarian Award. Kisah ini membuatku termotivasi bahwa dalam kondisi apapun, tidak ada hal di dunia ini yang bisa menghentikan langkah seseorang untuk berprestasi dan meraih cita-cita.

Saat ini aku duduk di kelas 3. Aku sedang mempersiapkan diri untuk Ujian Akhir dan tes Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Aku ingin meneruskan sekolah ke perguruan tinggi. Perguruan tinggi favoritku adalah Universitas Indonesia (UI). Aku juga ingin seperti kakakku Andrian Fauzi yang dapat kuliah di UI dengan beasiswa, sehingga orang tuaku tidak terbebani dengan biaya kuliahku. Aku akan berusaha keras untuk menunjukkan bahwa akupun mampu untuk menjadi sukses dan membuat kedua orang tuaku bangga.

Jujur setelah baca itu, gue sendiri (sangat) terharu. Yup Maulana emang diberi keistimewaan oleh Sang Pencipta, gue sendiri sangat salut dengan semangat yang doi punya. Jadi inget waktu awal-awal Maulana masuk SD, rada minder gitu, mungkin seperti yang Maulana bilang, doi takut diejek temen-temennya. Tapi Alhamdulillahnya setelah sekolah ketakutannya ga terbukti, bahkan sampe sekarang ketika masa sekolahnya hampir berakhir.

Gue sangat bersyukur karena Maulana sangat bersemangat dan sangat percaya diri dalam menatap harinya. Gue sih terus berdoa dan berharap semoga Maulana bisa membuat bangga keluarga dan semua orang, juga bisa menjadi sumber motivasi bagi semua orang terutama buat temen-temen sesuku gue yang udah dikasih fungsi organ tubuh yang sempurna tapi masih aja males untuk sekolah dan meraih cita.

Saat ini Maulana sedang dagdigdug menghadapi ujian nasional yang akan berlangsung Senin depan (160412). Setelah itu doi akan fokus menghadapi SNMPTN dan SIMAK UI. Semoga adek gue bisa sukses menghadapi semuanya, lulus ujian dan bisa masuk Psikologi UI seperti yang doi inginkan. Gue juga masih berusaha untuk mencarikannya link beasiswa, semoga doi bisa mengikuti jejak gue yang kuliah dengan dana bersumber dari beasiswa. Buat semuanya minta doa juga yaaa.....

Oiya sebelum lupa gue juga mau berterimakasih buat temen Marching Band gue, Rendy Erlangga yang udah berbaik hati ngasih tongkatnya buat Maulana. Jadi dulu gue sempet mikir kalo Maulana ga mungkin bergantung sama kursi roda dan ga usah mikirin siapa yang ngedorong-dorong kursi rodanya, soalnya kalo nanti doi kuliah doi mesti mandiri. Akhirnya gue berpikir buat ngebeliin Maulana tongkat, kebetulan Rendy waktu itu abis kecelakaan dan pake tongkat. Setelah doi sembuh, gue bermaksud ngebeli tongkatnya, lumayan kan daripada beli baru, mahaaallll pastinya. Tanpa diduga tanpa dinyana Rendy ngasih secara cuma-cuma. Sekali lagi tengs yeee Ren, tongkat lu sangat berguna buat Maulana.

Selama ini gue emang cerita kebeberapa temen aje, bukaaaaaannnnnn, bukan karena gue malu, tapi lebih karena belum waktunya aje gue untuk bercerita. Toh kalo udah saatnya juga gue bakal cerita, kaya sekarang ini. oiya nih beberapa foto gue dan adek gue ini:


Bareng si Neng sama kedua adek gue di Ragunan

Semoga Maulana cepet nyusul gue

3 Generasi


.


Masih seputar gegap-gempitanya wisudaan gue, poto di bawah ini adalah poto 3 generasi Pangeran Belendung yang diambil pas wisudaan kmaren:
(kiri- kanan) Engkong, babeh, ayeh
Yah poto di atas ngeliatin silsilah dari 3 generasi terakhir Pangeran Belendung. Ada beberapa yang bisa diliat dari nih poto, yang pertama adalah tinggi badan yang kian mengalami progress.. Terlihat seperti tangga bukan? Hmm mungkin nanti anak gue bisa lebih tinggi dari gue. (baguslah jadi ada perbaikan keturunan, ehehe).. Hmmm untuk warna kulit sepertinya tidak jauh beda yee, semuanye sawo mateng bahkan cenderung sawo busuk kali yee... Nah yang gue khawatirkan adalah masalah berat badan, sepertinya juga mengalami progress.. Haduh kalo gini bakal segede apa ya keturunan Pangeran Belendung berikutnya,? hiiiyyy *ngeri*

Satu yang penting dan sangat gue senangi dan banggakan adalah progress tingkat pendidikan. Engkong gue yang (konon kabarnya) tidak berpendidikan bisa mendidik babeh gue hingga lulus SMP. Alhamdulillahnya, babeh gue yang cuman lulusan SMP bisa ngedidik gue sampe lulus Sarjana sampe sekarang. Berarti PR gue lumayan berat yee, gue mesti ngedidik anak gue nanti sampe doi bisa lebih dari gue, yah minimal S2 kali yee.. Malu aje sama babeh  klo gue ga mampu ngedidik anak gue ntar..

Untuk urusan kerjaan Insya Allah juga bakal ada progress, Engkong gue dulu petani tapi karena sekarang doi udah tuwir jadi lebih banyak melakukan kegiatan di rumah yah walopun sesekali masih suka nani (atau bertani). Kalo babeh gue saat ini masih berstatus sebagai supir di salah satu pabrik di Tangerang. Terus gue? Hmmm Insya Allah bisa lebih dari yang sekarang babeh gue kerjain.(sekali lagi) Alhamdulillah saat ini gue udah diterima ODP BCA Finance. Terus juga PT Bima Palma (Perusahaan Kelapa Sawit) yang sebelumnya gue tolak karena masalah fee yang ga sesuai, beberapa hari yang lalu nelpon gue dan nyanggupin gaji yang gue minta. Satu lagi, besok (19092011) gue mau wawancara akhir buat PPS BRI (semacam MT). Yah semoga aje pada akhirnya gue bisa dapet yang bener2 terbaik buat hidup gue, keluarga, kelurahan, dan semuanya dah pokoknya...

semua bersorak *AMIIINNNNNN*

Bahan eksperimen yang mengasyikan: Aryudha Faturrahman


.




























haha doi (Yudha) itu adek gue yang paling kecil,,lahir 11 Januari 2009 yg berarti baru mau 2 tahun januari besok...gue sih nganngep dia udah kaya anak gue,, yah gimana gak kita beda 19 tahun 6 bulan mennn....

pokoknya visi gue sekarang adalah menjadikannya sebagai bahan eksperimen gue sebelum gue ngedidik anak gue nanti,,pokoknya bakal gue tentir abis2an dah biar pencapaiannya minimal se gue kalo bisa lebih,,nih salah satunya dalam menghadapi kamera,,berikut hasil tentiran gue...: